Selasa, 21 September 2010

Menanti Seorang Pemimpin Amanah

Beberapa waktu yang lalu headline surat kabar memberitakan mengenai wacana akan adanya pergantian beberapa pimpinan tinggi negara antara lain Panglima TNI, Kapolri , Jaksa Agung dan Ketua KPK. Semua jabatan tersebut adalah jabatan strategis yang sangat besar pengaruhnya bagi kelangsungan hidup bangsa ini. Semoga siapapun yang terpilih nantinya, adalah orang-orang yang layak dan pantas menduduki jabatan tersebut. Menjadi seorang pemimpin yang amanah bagi semua rakyat. Karena negara ini memerlukan adanya para pemimpin yanga amanah dalam memegang kekuasaan.
Pemimpin amanah adalah pemimpin yang dapat di percaya. Ia harus memiliki kepercayaan masyarakat dan dapat melaksankan tugas dengan penuh tanggung jawab, mampu menerapkan nilai-nilai luhur dan memberi keteladanan yang baik bagi masyarakat. Seseorang yang mempunyai karakter kuat dan rekam jejak yang bersih dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga , masyarakat dan bangsa.
Salah satu contoh seorang pemimpin amanah adalah Khalifah Abu Bakar r.a. ini dapat dilihat pada pidato Pertama kali beliau pada di lantik sebagai Khalifah. Yang menyatakan bahwa “Saya di lantik sebagai Khalifah bukan karena saya lebih baik dari kamu sekalian, Jika saya berbuat baik maka bantulah dan jika saya berbuat buruk(menyeleweng) luruskanlah. Orang-orang diantara kamu yang lemah akan menjadi kuat, karena saya akan melindungi hak-hak-nya, orang-orang  yang kuat  diantara kamu akan lemah disisi-ku, sampai saya mengambil hak daripadanya. Janganlah kamu sekalian meninggalkan perjuangan karena akan ditimpakan Allah kehinaan di atas pundak kamu. Patuhilah saya selama saya patuh kepada Allah dan Rosul-Nya, Jika saya durhaka maka tidaklah wajib bagi kamu mentaati lagi.” Sebuah pidato dan agenda kerja yang singkat, jelas dan tegas, tentang apa yang akan dilakukan selama menjadi Klalifah. Tanpa banyak janji dan iming-iming manis tapi berusaha dan berbuat dengan sungguh-sungguh untuk menegakkan kebenaran.
Negeri ini merindukan seorang pemimpin yang dapat menjadi teladan dalam perbaikan di semua sektor kehidupan. Pemimpin yang mampu mengarahkan dan menbersihkan instansi yang di pimpinnya dari segala perilaku yang menyimpang. Yang dengan tegas berkata” tidak” untuk setiap bentuk korupsi , kolusi dan nepotisme. Pada akhirny kita akan melihat akankah para pemimpin baru tersebut nantinya akan menjadi pemimpin yang amanah atau pemimpin yanhg khianat. Apakah Ia akan perduli dengan nasib rakyat atau hanya memikirkan diri sendiri, keluarga, kelompok atau korps yang di pimpinnya ? waktu jua yang akan membuktikan.  Karena keberanian adalah cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (W.S. Rendra)

Rabu, 15 September 2010

Mudik ( Makna dan Hikmahnya bagi kita)


Mudik yang berasal dari kata “udik” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sungai disebelah atas (arah dekat sumber) atau (daerah) dihulu sungai. Kata itu mengandung makna positif, yaitu bagian atas sungai atau bagian kepala sungai yang dekat sumber mata air, sehingga jernih dan belum terkena polusi.
Namun ada makna kedua dalam KBBI, yaitu “udik” berarti desa, dusun, kampung (lawan dari kota). Sayangnya kesan yang berkembang di masyarakat cenderung ke arah konotasi negatif karena “orang udik” atau “orang dusun” sering dikaitkan dengan kebodohan dan kurang tahu sopan santun.
      Mudik dapat juga diartikan secara sederhana adalah sebuah proses untuk menelusuri dan mengikatkan diri kepada akar sosial kita. Entah seorang pejabat tinggi ataupun orang biasa, ketika dirantau anda tetap saja Mr Nobody atau sekedar nomor saja, tetapi dikampung halaman sendiri kita dapat menghayati kembali makna kedudukan sebagai adik, paman, keponakan, saudara ataupun anak.
     Disitu kita dapat merasakan kembali kasih sayang tanpa pamrih, kasih sayang yang tulen bukan hanya sekedar basa-basi. Dengan tinggal beberapa saat saja di desa, kita dapat menyadari kembali makna sosial dari seorang tetangga, sahabat ataupun saudara, jadi bukan hanya sekedar sebagai orang lain yang tinggal di seberang rumah atau di samping meja kerjanya seperti yang dihayati di
Kota. Di kampung halaman kita bisa mendapatkan kembali harkat dan nilai kemanusiaan kita lagi.
 
    Ada yang menarik terlepas dari makna mudik, sebenarnya pemudik dari kota secara tidak langsung telah menjadi Duta Kota. Orang-orang kota (perantau) secara tak sengaja akan memperkenalkannya ketika mudik. Dering ponsel dimana-mana akan mengajarkan betapa pentingnya komunikasi langsung, secara cepat dan tanpa basa-basi. Mobil-mobil dengan berbagai gaya, ukuran juga akan membawa banyak pengertian baru bagi mereka yang jauh di pelosok; tentang arti sukses, tentang arti kerja keras, tetapi bisa pula tentang betapa telah tertinggalnya mereka.
Lantas apakah proses pembelajaran itu akan jadi searah saja, dari mereka yang mudik kepada mereka yang diudik? Tidak dapatkah arah itu dibalik, justru yang mudik lah belajar dari yang udik? Tidak dapatkah kita menempatkan diri sebagai warga yang kini ingin kembali menggali nilai-nilai dan banyak hal lain yang mungkin telah lama hilang?
  Ya, makna mudik mulai mengalami pergeseran nilai dengan terkontaminasi oleh adanya kegiatan “pamer” kekayaan. Tanpa disadari masyarakat “kampung” pun ternyata mulai terkontaminasi oleh budaya feodal tersebut. Mereka cenderung lebih menghargai mereka yang membawa kendaraan, harta benda yang banyak dan “mentereng” ketimbang yang tidak punya apa-apa.
Padahal seharusnya hikmah mudik yang terbesar dan dikedepankan, adalah momentum kembali ke fitrah dengan melakukan sungkem dan berbaik-baikan pada orang tua.  Bermaaf maafan dengan saudara , menjalin silaturahmi dengan para tetangga  dan sahabat yang telah lama tidak bertemu. Karena pertemuan dengan orang tua, kerabat, saudara, sahabat mampu menjadi motivasi/spirit yang luar biasa ketika kita kembali ke kota.