Kamis, 09 April 2015

“QUR'AN MENJAWAB”

1. KITA TANYA: MENGAPA AKU DIUJI? QUR'AN JAWAB: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” [Al-Ankabut ayat 2-3] 2. KITA TANYA: MENGAPA UJIAN SEBERAT INI? QUR'AN JAWAB: “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” [Al-Baqarah ayat 286] 3. KITA TANYA: MENGAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN? QUR'AN JAWAB: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah ayat 216] 4. KITA TANYA: MENGAPA AKU MERASA FRUSTRASI? QUR'AN JAWAB: “Janganlah kamu bersikap lemah. dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” [Al-Imran ayat 139] 5. KITA TANYA: BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA? QUR'AN JAWAB: “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan shalat; dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyu.” [Al-Baqarah ayat 45] 6. KITA TANYA: KEPADA SIAPA AKU BERHARAP? QUR'AN JAWAB: “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari-Nya. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal.” [At-Taubat ayat 129] 7. KITA BERKATA: AKU TAK TAHAN!!! QUR'AN MENJAWAB: “... dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf ayat 12] 8. KITA TANYA: MENGAPA HATI INI TDK TENANG? QUR'AN JAWAB: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”[QS. Ar Ra'd ayat 28] Subhanallah Semoga kita semua senantiasa mengamalkan al-Quran sampai akhir hayat. Aamiin (Ustad Yusuf Mansyur)

Senin, 10 September 2012

Jangan buru-buru menikah


Jangan buru-buru menikah, jika nanti kamu enggan untuk sekedar mengganti popok anakmu ketika dia terbangun malam hari. Sedangkan 9 bulan istrimu harus membawanya diperut.

          Jangan buru-buru menikah, jika nanti kalian tidak bisa berbagi baik suka & sedih dan kamu lebih memilih teman-temanmu yang lain untuk berbagi dan bercerita. Pasangan pun ingin berbagi dan dia adalah tempatberbagi, pasangan itu bukan hanya teman tidur yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat.

          Jangan buru-buru menikah, jika nanti kamu langsung tertidur setelah selesai bercinta, kamu harus tahu bahwa pasanganmu juga menikmati kebersamaan denganmu. Bukan hanya mau mendengar dengkurmu.

          Jangan buru-buru menikah, jika dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan bercerai/berpisah dengan pasanganmu.

          Jangan buru-buru menikah, jika nanti kamu memilih tamparan dan pukulan untuk memperingati kesalahan pasanganmu. Sedangkan pasanganmu itu tidak tuli dan masih bisa mendengarkan kata-katamu yang lembut tapi berwibawa.

          Jangan buru-buru menikah, jika setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang kerumah karena rindu sama pasangan tapi memilih bertemu teman-temanmu untuk berhura-hura.

          Jangan buru-buru menikah, jika nanti kamu malu membawa pasanganmu ke pesta teman-temanmu & memperkenalkannya sebagai pasanganmu. Jangan biarkan pasanganmu hanya menjadi pajangan dirumah sedangkan kamu lebih memilih berpergian dengan teman-temanmu.

          Jangan buru-buru menikah , jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuh pasanganmu tak seindah dulu. Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut punya andil besar dengan melarnya tubuh pasanganmu.

          Jangan buru-buru menikah... Pikir dan perhitungkan dulu dengan matang, buat persiapan yang memadai untuk mewujudkan cita-cita dan keingan bersama

10 MACAM MIE YG DIHARAMKAN


ADA 10 MACAM MIE YG DIHARAMKAN YAITU:


1.       MIE KIRNE DUNYO AE


2.      MIE LU MILU ALIRAN SESAT


3.      MIE NGGAT GAK PAMIT WONG TUWO


4.      MIE JETI BOJONE TONGGO


5.     MIE DER EMBONG RA KLAMBENAN


6.    MIE MIK SUSU DUDUK MUKRIME


7.     MIE SAHNE RUMAH TANGGA


8.     MIE SUH2 RA JELAZ


9.     MIE LIHI BARANG G SIDO DITUKU


10.     MIE DEK2 SIRAHE MOROTUWO,,,,,,,,,,,

Sabtu, 18 Agustus 2012

CATATAN RAMADHAN 1433 H


Sudahkah kita benar benar menjalankan ajaran agama secara kaffah, pertanyaan ini saya temukan jawabannya pada ceramah pak kai pada saat kultum selesai sholat terawih kemarin sebagai berikut :



1.  Identitas kita sebagai orang Islam dengan cara mengucapkan 2 kalimat syahadat.



2. Ketaatan dalam beragama bisa di liat dari sholatnya, apakah kita menjalankan sholat 5 waktu dengan tepat waktu, sendirian ato berjamaah, bolong-bolong atau istiqomah, selesai sholat lamcung (habis salam langsung kabur) atau di isi dengan dzikir, sholat yang wajib aja ato ditambah bonus dengan sholat sunnah.


3. Keihlasan dalam beragama diliat dari zakatnya.

4. Kepatuhan dalam bergama di liat dari car menjalankan ibadah puasa.

5. Totalitas beragama akan keliatan pada saat memenuhi panggilan ke tahah suci untuk melaksankan ibadah haji


Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, kemampuan untuk menjauhi yang larang dan diberikan rasa kecukupan.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.


Selasa, 14 Agustus 2012

Kata Mutiara

Tak pantas bagi kita
untuk berharap mendapat jawaban
dari seluruh permintaan kita kepada Tuhan,
jika kita tidak seluruhnya bersungguh-sungguh
dalam mengupayakan kepantasan
untuk menerimanya.
Yang pantas menerima, akan menerima.

Karenanya,

Marilah kita maksimalkan ketulusan
dalam kerja keras kita,
agar maksimal rezeki bagi kesejahteraan
dan kebahagiaan keluarga kita,
dan bagi sesama yang kita layani.
{Mario Teguh}

BERTAMU KE RUMAH ORANG KAYA

Ketika bertamu ke rumah orang yang sangat kaya, setelah dipersilahkan masuk, seorang pembantunya menghampiri saya.

Pembantu (P) : Selamat siang Tuan. Mau minum apa??? Jus buah, soda, teh, coklat, cappuccino, frapuccino, kopi atau yang lain? Saya
(S) : Teh saja, makasih.

P : Tehnya teh ceylon, teh india, teh herbal, teh alang-alang, teh hijau atau teh apa?
S : Teh ceylon

P : Teh ceylonnya pake es, hangat atau panas?
S : Pakai es saja

P : Esnya mau es batu, diserut kasar, diserut salju atau dihancurkan acak?
S : Oh, gak usah repot-repot. Es batu saja.

P : Es batunya mau yang bentuk kubus, pipih, bulat, tabung atau hati-hatian?
S : Yang hati-hatian juga gapapa.

P : Baik. Anda mau tehnya hitam atau putih?
S : Putih.

P : Dengan susu atau krim segar?
S : Dengan susu.

P : Susu kambing, susu domba atau susu sapi?
S : Susu sapi dong!!!

P : Sapi selandia baru, sapi australia atau sapi lokal?
S : Eh, ga jadi putih. Yang hitam aja tehnya.

P : Pemanisnya mau pakai gula atau madu?
S : Dengan gula.

P : Gula tebu atau gula rendah kalori atau gula bit?
S : Gula tebu.

P : Gula tebunya yang putih, coklat atau kuning?
S : Lupakan tehnya. Saya minta air putih saja.

P : Air mineral, air rebus atau air suling?
S : Air mineral.

P : Dingin atau biasa?
S : Dingin.

P : Dinginnya pakai es atau dingin tanpa es?
S : Dingin tanpa es.

P : Dinginnya minus berapa derajat? -5, -10, -15?
S : Weleh-weleh……Dah saya pamit pulang.

Kamis, 24 November 2011


Mengatasi Rasa Bosan dalam Bekerja

 

Adanya rasa bosan dan tidak dapat menikmati perkerjaan adalah hal yang wajar dalam kehidupan manusia. apalagi bila kita menjadikan pekerjaan sebagai beban berat. Akibatnya, perasaan sedih, tidak bersemangat, dan mengantuk lebih sering muncul sebagai tanda kebosanan mulai datang.

Rasa bosan dengan pekerjaan ini disebabkan antara lain adanya sifat monoton dalam pekerjaan tersebut sehingga tidak menarik dan menantang, lingkungan kerja yang tidak kondusif atau terasa ‘tidak hidup’, tidak memiliki otonomi dalam pekerjaan yang dilakukan sehingga tidak dapat melakukan sentuhan pribadi di dalamnya, tidak mencintai dan tidak menganggap penting pekerjaan tersebut, bahkan hanya sekedar duduk-duduk tanpa melakukan pekerjaan apa pun dapat menimbulkan rasa bosan ini.

Ada beberapa kiat yang dapat di coba untuk mengatasi rasa bosan antara lain :

1.    Bersyukurlah Anda telah mendapat pekerjaan karena saat ini banyak yang kesulitan mendapatkan pekerjaan. Mencintai pekerjaan akan membuat lebih bersemangat kerja.

2.   Fokuslah menyelesaikan pekerjaan pada jam kerja sehingga tidak banyak melakukan kesalahan dan harus mengulang dari awal. Sebab, mengulang pekerjaan yang sama dari awal dapat menimbulkan rasa bosan.

3.       Tetapkan target yang harus dicapai untuk menghindari bermalas-malasan dan bosan.

4.       Tentukan planning atau rencana untuk lima tahun lagi. Apakah akan tetap seperti hari ini atau lebih berkembang? Lebih berkembang berarti harus ada kemajuan setiap hari dalam pekerjaan. Jadi, buanglah rasa bosan.

5.    Tambahlah skill/kemampuan baru yang menunjang pekerjaan  karena otak membutuhkan sesuatu yang baru. Selain membuat lebih tertantang, skill ini bisa memberi nilai ‘lebih’ dalam pekerjaan.

6.     Refreshing atau penyegaran dapat di sela-sela jam kerja walaupun sekedar menghirup udara segar.

7.       Di luar jam kerja, fokus untuk menyenangkan selain pekerjaan, misalnya nikmatilah berkumpul bersama keluarga. Lepaskanlah benar-benar beban pekerjaan. Curahkan perhatian sepenuhnya untuk mereka.

8.       Jalan-jalan di akhir pekan bersama orang-orang yang dicintai dapat menyingkirkan kebosanan.

Selasa, 21 September 2010

Menanti Seorang Pemimpin Amanah

Beberapa waktu yang lalu headline surat kabar memberitakan mengenai wacana akan adanya pergantian beberapa pimpinan tinggi negara antara lain Panglima TNI, Kapolri , Jaksa Agung dan Ketua KPK. Semua jabatan tersebut adalah jabatan strategis yang sangat besar pengaruhnya bagi kelangsungan hidup bangsa ini. Semoga siapapun yang terpilih nantinya, adalah orang-orang yang layak dan pantas menduduki jabatan tersebut. Menjadi seorang pemimpin yang amanah bagi semua rakyat. Karena negara ini memerlukan adanya para pemimpin yanga amanah dalam memegang kekuasaan.
Pemimpin amanah adalah pemimpin yang dapat di percaya. Ia harus memiliki kepercayaan masyarakat dan dapat melaksankan tugas dengan penuh tanggung jawab, mampu menerapkan nilai-nilai luhur dan memberi keteladanan yang baik bagi masyarakat. Seseorang yang mempunyai karakter kuat dan rekam jejak yang bersih dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga , masyarakat dan bangsa.
Salah satu contoh seorang pemimpin amanah adalah Khalifah Abu Bakar r.a. ini dapat dilihat pada pidato Pertama kali beliau pada di lantik sebagai Khalifah. Yang menyatakan bahwa “Saya di lantik sebagai Khalifah bukan karena saya lebih baik dari kamu sekalian, Jika saya berbuat baik maka bantulah dan jika saya berbuat buruk(menyeleweng) luruskanlah. Orang-orang diantara kamu yang lemah akan menjadi kuat, karena saya akan melindungi hak-hak-nya, orang-orang  yang kuat  diantara kamu akan lemah disisi-ku, sampai saya mengambil hak daripadanya. Janganlah kamu sekalian meninggalkan perjuangan karena akan ditimpakan Allah kehinaan di atas pundak kamu. Patuhilah saya selama saya patuh kepada Allah dan Rosul-Nya, Jika saya durhaka maka tidaklah wajib bagi kamu mentaati lagi.” Sebuah pidato dan agenda kerja yang singkat, jelas dan tegas, tentang apa yang akan dilakukan selama menjadi Klalifah. Tanpa banyak janji dan iming-iming manis tapi berusaha dan berbuat dengan sungguh-sungguh untuk menegakkan kebenaran.
Negeri ini merindukan seorang pemimpin yang dapat menjadi teladan dalam perbaikan di semua sektor kehidupan. Pemimpin yang mampu mengarahkan dan menbersihkan instansi yang di pimpinnya dari segala perilaku yang menyimpang. Yang dengan tegas berkata” tidak” untuk setiap bentuk korupsi , kolusi dan nepotisme. Pada akhirny kita akan melihat akankah para pemimpin baru tersebut nantinya akan menjadi pemimpin yang amanah atau pemimpin yanhg khianat. Apakah Ia akan perduli dengan nasib rakyat atau hanya memikirkan diri sendiri, keluarga, kelompok atau korps yang di pimpinnya ? waktu jua yang akan membuktikan.  Karena keberanian adalah cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (W.S. Rendra)

Rabu, 15 September 2010

Mudik ( Makna dan Hikmahnya bagi kita)


Mudik yang berasal dari kata “udik” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sungai disebelah atas (arah dekat sumber) atau (daerah) dihulu sungai. Kata itu mengandung makna positif, yaitu bagian atas sungai atau bagian kepala sungai yang dekat sumber mata air, sehingga jernih dan belum terkena polusi.
Namun ada makna kedua dalam KBBI, yaitu “udik” berarti desa, dusun, kampung (lawan dari kota). Sayangnya kesan yang berkembang di masyarakat cenderung ke arah konotasi negatif karena “orang udik” atau “orang dusun” sering dikaitkan dengan kebodohan dan kurang tahu sopan santun.
      Mudik dapat juga diartikan secara sederhana adalah sebuah proses untuk menelusuri dan mengikatkan diri kepada akar sosial kita. Entah seorang pejabat tinggi ataupun orang biasa, ketika dirantau anda tetap saja Mr Nobody atau sekedar nomor saja, tetapi dikampung halaman sendiri kita dapat menghayati kembali makna kedudukan sebagai adik, paman, keponakan, saudara ataupun anak.
     Disitu kita dapat merasakan kembali kasih sayang tanpa pamrih, kasih sayang yang tulen bukan hanya sekedar basa-basi. Dengan tinggal beberapa saat saja di desa, kita dapat menyadari kembali makna sosial dari seorang tetangga, sahabat ataupun saudara, jadi bukan hanya sekedar sebagai orang lain yang tinggal di seberang rumah atau di samping meja kerjanya seperti yang dihayati di
Kota. Di kampung halaman kita bisa mendapatkan kembali harkat dan nilai kemanusiaan kita lagi.
 
    Ada yang menarik terlepas dari makna mudik, sebenarnya pemudik dari kota secara tidak langsung telah menjadi Duta Kota. Orang-orang kota (perantau) secara tak sengaja akan memperkenalkannya ketika mudik. Dering ponsel dimana-mana akan mengajarkan betapa pentingnya komunikasi langsung, secara cepat dan tanpa basa-basi. Mobil-mobil dengan berbagai gaya, ukuran juga akan membawa banyak pengertian baru bagi mereka yang jauh di pelosok; tentang arti sukses, tentang arti kerja keras, tetapi bisa pula tentang betapa telah tertinggalnya mereka.
Lantas apakah proses pembelajaran itu akan jadi searah saja, dari mereka yang mudik kepada mereka yang diudik? Tidak dapatkah arah itu dibalik, justru yang mudik lah belajar dari yang udik? Tidak dapatkah kita menempatkan diri sebagai warga yang kini ingin kembali menggali nilai-nilai dan banyak hal lain yang mungkin telah lama hilang?
  Ya, makna mudik mulai mengalami pergeseran nilai dengan terkontaminasi oleh adanya kegiatan “pamer” kekayaan. Tanpa disadari masyarakat “kampung” pun ternyata mulai terkontaminasi oleh budaya feodal tersebut. Mereka cenderung lebih menghargai mereka yang membawa kendaraan, harta benda yang banyak dan “mentereng” ketimbang yang tidak punya apa-apa.
Padahal seharusnya hikmah mudik yang terbesar dan dikedepankan, adalah momentum kembali ke fitrah dengan melakukan sungkem dan berbaik-baikan pada orang tua.  Bermaaf maafan dengan saudara , menjalin silaturahmi dengan para tetangga  dan sahabat yang telah lama tidak bertemu. Karena pertemuan dengan orang tua, kerabat, saudara, sahabat mampu menjadi motivasi/spirit yang luar biasa ketika kita kembali ke kota.